Keterbatasan pasokan air di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, selama ini menjadi persoalan krusial yang membatasi pilihan komoditas pertanian masyarakat. Mayoritas petani hanya mampu menanam tembakau sebagai tanaman utama, meskipun hasil yang diperoleh tidak selalu menjanjikan akibat fluktuasi harga dan sistem tata niaga yang kerap tidak berpihak kepada petani. Menyikapi kondisi tersebut, para petani mulai berinisiatif melakukan diversifikasi pertanian dengan menanam berbagai jenis sayuran yang memiliki potensi nilai ekonomi yang lebih stabil. Namun demikian, pengembangan tanaman hortikultura tersebut membutuhkan dukungan ketersediaan air yang memadai dan berkelanjutan untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.
Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjawab permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Geofisika dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Muhammadiyah Tobacco Control Center Universitas Muhammadiyah Magelang pada tanggal 8 April 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Glapansari. Tim pengabdian tersebut terdiri dari Dr. Eng. Udi Harmoko, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Gatot Yulianto, S.Si., M.Si., Dr. Drs. Tony Yulianto, M.T., Dr. Drs. Muhammad Irham, M.T. dan Dr. Ir. Sugeng Widada, M.T yang seluruhnya merupakan akademisi di bidang geofisika.
Dalam kegiatan ini, tim menerapkan pendekatan geofisika untuk mengidentifikasi potensi sumber daya air bawah permukaan, salah satunya melalui metode Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR). Metode HVSR merupakan teknik yang menghitung perbandingan antara data rekaman seismik komponen horizontal terhadap komponen vertikal, yang diperkenalkan oleh Yutaka Nakamura pada tahun 1989 untuk mengestimasi frekuensi resonansi serta faktor amplifikasi geologi setempat berdasarkan data mikroseismik. Metode ini umumnya digunakan pada seismik pasif (mikrotremor) tiga komponen, dengan parameter utama yang dihasilkan berupa frekuensi natural dan nilai amplifikasi. Kedua parameter tersebut sangat berkaitan dengan karakteristik fisik bawah permukaan, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi geologi setempat sebagaimana dijelaskan oleh Hrvoje Herak (2008).
Lebih lanjut, analisis perbandingan kecepatan gelombang geser (Vs) dan gelombang tekan (Vp) pada lapisan bawah permukaan bumi dimanfaatkan untuk menghitung rasio Poisson, yang menjadi indikator penting dalam mendeteksi keberadaan air. Semakin besar nilai rasio Poisson, semakin tinggi pula kemungkinan kandungan air dalam lapisan tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran mikrotremor yang dilakukan di Desa Glapansari, teridentifikasi potensi akuifer pada titik ukur 1C pada kedalaman sekitar 60–145 meter, yang mengindikasikan adanya akuifer tertekan di bawah permukaan. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi sumber air tanah yang cukup signifikan untuk dimanfaatkan sebagai solusi penyediaan air bersih. Selain itu, hasil kajian juga memperlihatkan bahwa potensi lapisan batuan sebagai sumber akuifer di area ini tergolong besar, sehingga keberadaan akuifer dapat diidentifikasi secara lebih akurat melalui metode mikrotremor berbasis HVSR dengan analisis rasio Poisson. Melalui kegiatan pengabdian ini, tim tidak hanya menghadirkan solusi berbasis sains dan teknologi dalam pencarian sumber air, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih beragam, adaptif, dan berkelanjutan. Diharapkan ketersediaan air yang lebih memadai ke depan dapat meningkatkan produktivitas lahan serta kesejahteraan petani di Desa Glapansari.
