Dua mahasiswa Program Sarjana Fisika Universitas Diponegoro angkatan 2022 yang mengikuti wisuda sarjana awal Mei 2026 tersebut kini berada di titik awal perjalanan baru yang lebih menantang. Berbekal pengalaman menggunakan metode Monte Carlo N-Particle (MCN-P) dalam kajian fisika nuklir, keduanya telah memiliki fondasi kuat untuk melangkah ke ranah riset internasional. Mereka secara khusus diajak berbincang oleh Prof. Muhammad Nur untuk langkah strategis berikutnya dalam pengembangan ilmu dan teknologi.

Pato Sayyaf (18 tahun), merupakan lulusan termuda dari universitas Diponegoro pada wisuda priode ini. Pato menekuni aplikasi medis, khususnya dalam Boron Neutron Capture Therapy (BNCT). Sementara itu, Muhammad Zidni (22 tahun) yang sejak awal fokus pada desain dan analisis Small Modular Reactor (SMR) semakin mantap untuk memperdalam bidang tersebut di jenjang pendidikan berikutnya.

Dalam perbincangan kami, keduanya sepakat bahwa masa depan energi bersih, efisien, dan aman sangat erat kaitannya dengan teknologi SMR. Reaktor jenis ini dinilai memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas, biaya pembangunan, serta sistem keselamatan pasif yang lebih baik dibandingkan reaktor konvensional. Oleh karena itu, melanjutkan studi ke luar negeri menjadi langkah strategis untuk mengakses fasilitas riset yang lebih maju, jejaring akademik global, serta bimbingan dari para ahli di bidang teknologi nuklir.

Mereka kini tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari kemampuan bahasa asing, penyusunan proposal riset, hingga pemilihan universitas yang memiliki fokus kuat pada teknologi reaktor generasi baru. Negara-negara dengan tradisi riset nuklir yang mapan menjadi tujuan utama, termasuk yang telah lebih dahulu mengembangkan dan menguji konsep SMR secara komprehensif.

Dalam perbincangan yang dihadiri juga oleh ayah dan ibu Pato Sayyaf telah disepakati kedua lulusan fisika tersebut akan menekuni Small Modular Reactor di Rusia. Keputusan ini cukup masuk akal, bahkan strategis, jika dilihat dari peta kekuatan global di bidang nuklir saat ini. Rusia, melalui Rosatom, termasuk salah satu aktor paling aktif dalam pengembangan dan implementasi teknologi SMR, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Salah satu keunggulan utama belajar di sana adalah kedekatan dengan proyek nyata. Rusia tidak hanya mengembangkan konsep di atas kertas, tetapi sudah mengoperasikan reaktor modular seperti Akademik Lomonosov, sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir terapung yang menjadi bukti konkret implementasi SMR. Ini memberi peluang bagi mahasiswa untuk memahami bukan hanya aspek teoretis, tetapi juga tantangan rekayasa, keselamatan, dan operasional di dunia nyata.

Namun, keputusan ini juga perlu dilihat secara kritis. Lingkungan geopolitik saat ini bisa memengaruhi akses kolaborasi internasional, publikasi, hingga mobilitas akademik. Selain itu, standar dan pendekatan desain reaktor di Rusia kadang berbeda dengan yang digunakan di negara-negara Barat, yang bisa menjadi tantangan sekaligus peluang, tergantung bagaimana mereka memanfaatkannya.

Dari sisi akademik, Rusia memiliki tradisi kuat dalam fisika nuklir dan teknik reaktor. Institusi-institusi di sana dikenal solid dalam dasar teori dan komputasi, yang sangat relevan dengan latar belakang mereka dalam simulasi menggunakan MCNP. Jika mereka mampu menggabungkan kekuatan analitis tersebut dengan pengalaman praktis di proyek SMR, mereka bisa berkembang menjadi peneliti atau engineer yang sangat kompetitif secara global.

Harapannya, setelah menyelesaikan studi lanjutan, keduanya dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam pengembangan teknologi energi nuklir yang aman dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya kebutuhan energi nasional, kehadiran sumber daya manusia yang kompeten di bidang ini akan menjadi aset penting dalam mendukung transisi energi di masa depan.

Langkah yang mereka ambil hari ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga bagian dari upaya panjang untuk menghadirkan solusi energi bagi generasi mendatang.
(Semarang, 6 Mei 2026)

Oleh Muhammad Nur

(Foto diatas menunjukkan dari kanan ke kiri, ayah Pato Sayyaf, Prof. Nur, Muhammad Zidni, Pato Sayyaf dan ibunda Pato Sayyaf)