Pada tanggal 31 Desember 2025, berdasarkan video amatir yang beredar luas di jejaring pesan Telegram, fenomena cahaya biru  terekam pada pukul 02.47 WIB. Cahaya tersebut dilaporkan diam selama kurang lebih delapan menit tanpa disertai suara maupun petir, dalam kondisi langit yang tidak berawan. Cahaya biru itu terlihat beberapa jam sebelum terjadi gempa beruntun mengguncang Aceh.

Dari beberapa artikel yang ditelusuri, menjelang gempa memang sering terjadi plasma alami dia atmosfer hanya beberapa meter dari permukaan bumi. tidak lama kemudian plasma hilang karena terjadi rekombinasi paga gas yang terionisasi. Hal itu dapat dijelaskan mekanismenya. Tegangan tektonik yang meningkat tidak hanya memicu proses mekanik di patahan, tetapi juga dapat mengaktifkan pembawa muatan dalam batuan silikat melalui ruptur ikatan peroksi, menghasilkan arus listrik dan gradien potensial yang bermigrasi menuju permukaan. Menjelang gempa besar, tegangan tektonik yang meningkat tidak hanya memicu proses mekanik di patahan, tetapi juga dapat mengaktifkan pembawa muatan dalam batuan silikat melalui ruptur ikatan peroksi, menghasilkan arus listrik dan gradien potensial yang bermigrasi menuju permukaan. Akumulasi muatan dan medan listrik lokal kemudian berpotensi mengionisasi udara dekat permukaan, memunculkan pelepasan korona atau glow yang teramati sebagai earthquake lights. Dalam skala yang lebih besar, gangguan elektrodinamika dekat permukaan juga dapat berkontribusi pada kopling litosfer–atmosfer–ionosfer yang termanifestasi sebagai anomali parameter atmosfer dan ionosfer, meskipun interpretasinya menuntut penyaringan ketat terhadap pengaruh cuaca antariksa dan variabilitas alamiah sistem ionosfer.

Saat batuan (terutama granit dan batuan silikat) mengalami tegangan tektonik ekstrem, ikatan kimia di dalam kristal dapat pecah dan menghasilkan pembawa muatan positif (positive holes / p-holes). Muatan ini bermigrasi ke permukaan bumi Terakumulasi di tanah, batuan, dan udara dekat permukaan. Menciptakan medan listrik kuat ke arah atmosfer

Jika medan listrik cukup besar, molekul udara (O₂, N₂) terionisasi maka terbentuk plasma dingin bertekanan rendah. Plasma non termal ini terlihat sebagai cahaya kebiruan,  kilatan putih dan bola cahaya (ball-like glow). Selaian itu terlihat juga cahaya ungu di langit malam. Peristia ini dapat dijelaskan  mekanisme lucutan korona (corona discharge) alami.

Sebelum gempa sering teramati: Anomali medan listrik & magnet bumi Gangguan ionosfer (TEC anomaly pada GPS) Emisi radio frekuensi rendah (ULF–ELF) Semua ini konsisten dengan kopling litosfer–atmosfer–ionosfer. Ya, laporan observasi menunjukkan EQL (Earthquake Light) dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari sebelum gempa.

Jika ditinjau dari sudut pandang Fisika Plasma mekanismeya dijelaskan oleh beberapa peneliti. Para peneliti  mengusulkan mekanisme “peroxy defects / positive holes (p-holes)” pada batuan silikat. Dalam model ini, tegangan tektonik yang meningkat menjelang gempa memicu ruptur ikatan peroksi di kisi mineral sehingga membangkitkan pembawa muatan (elektron dan “positive holes”). “p-holes” dapat mengalir keluar dari volume batuan yang sedang mengalami stres menuju batuan sekitar dan sampai ke permukaan, membentuk arus listrik dan gradien potensial yang cukup besar untuk memicu proses elektro-kimia dan elektrostatik di dekat permukaan bumi. Mekanisme unifikatif ini dibahas sebagai dasar bagi banyak “prekursor non-seismik” (termasuk EQL, anomali EM, radon, dan anomali ionosfer).

Di level fisika plasma atmosfer, ketika muatan terakumulasi di permukaan/asperity dan medan listrik lokal meningkat, udara di atasnya dapat mengalami ionisasi parsial (mirip corona discharge pada tekanan atmosfer). Ionisasi parsial inilah yang secara praktis bisa disebut “plasma dingin alami” yang memancarkan cahaya (glow/flash) dalam spektrum tampak—fenomena yang dilaporkan sebagai earthquake lights. Mekanisme ini secara eksplisit dikaitkan dengan stress-activation of p-holes dalam kajian EQL.

Secara empiris, EQL adalah laporan cahaya tak biasa yang muncul sebelum, saat, atau segera setelah gempa. Analisis statistik yang cukup sering dirujuk menunjukkan EQL lebih sering terasosiasi dengan lingkungan rift dan struktur kerak tertentu (misalnya sesar sub-vertikal dan kondisi tektonik spesifik), yang mengisyaratkan bahwa geometri sesar dan sifat batuan dapat memfasilitasi pemisahan muatan dan pelepasan listrik ke atmosfer. Namun sangat penting untuk dicatat adalah  tidak setiap gempa punya EQL,  tetapi bahwa pada subset kondisi geologi tertentu, peluang munculnya fenomena cahaya/ionisasi tampak menjadi lebih besar.